Mengenai Saya

Foto saya
Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia

Sabtu, 22 April 2023

Lirik Lagu Bentena Wolio

 Lirik Bentena Wolio oleh La Ode Imaduddin


Bentena wolio mangengena
Akadu rahasia ipiamo itu
Mosau-sauna otula-tula
Isarongiaka kau sarapu

Masigina akokabarakati
Suluwi bari baria alamu
Ajagani butuuni sabawaangi
Minaana bari baria katau

Kamali baadia isambali
Kakesana mbooresana
Peulusa oputa muri-muri
Tokamata ilawana burukene

Kalabianamo otana wolio
Obentena momangengena
Kasintapa malingu mia molalo
Bari mpuu mia momasinaiya

Bentena wolio mangengena
Akadu rahasia ipiamo itu
Mosau-sauna otula-tula
Isarongiaka kau sarapu

Aksara Buton

Buri Wolio adalah sebuah sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Wolio, bahasa resmi Kesultanan Buton. Buri Wolio dibuat berdasarkan aksara Arab, dimana Buri Wolio terdiri dari 15 huruf Arab asli dan 7 huruf tambahan yang dimodifikasi agar sesuai dengan fonem asli Wolio, yaitu (چ /t͡ʃ/, ڠ /ŋ/, ڨ /p/, ڬ /g/, ۑ /ɲ/, ڀ /bʰ/, dan ڊ /dʰ/).[1]

Secara umum aksara ini mirip dengan aksara Jawi, hanya saja dalam aksara Buri Wolio, lambang fonem vokal dan konsonan terpisah, dimana vokal ditulis dengan menggunakan diakritik (harakat) sehingga aksara ini tergolong dalam kelompok abugida.

Belum diketahui secara pasti kapan aksara ini ada, namun merunut pada naskah Buton tertua yang berhasil ditemukan, diperkirakan aksara ini sudah ada sejak kedatangan agama Islam di Buton pada abad ke-16.[2] Bersama-sama dengan bahasa Wolio, aksara ini digunakan dalam penulisan naskah-naskah kuno di Buton, di antaranya; naskah undang-undang, naskah keagamaan dan naskah surat-surat.

Selain itu, aksara ini juga digunakan untuk menulis kaḃanti (كَڀَنْتِ). Tradisi penulisan kaḃanti di Buton, mencapai puncak kepopulerannya pada Abad XIX (1824-1851), yaitu pada masa pemerintahan Sultan Buton XXIX yang bernama Muhammad Idrus Kaimuddin. Bagi masyarakat Buton, beliau selain dikenal sebagai sultan juga dikenal sebagai ulama serta pujangga Buton yang tersohor. Sebagai seorang pujangga, beliau banyak mengarang kesusastraan jenis kaḃanti, terutama yang bernapaskan ajaran agama Islam. Selain Muhammad Idrus Kaimuddin, lahir pula beberapa pujangga Buton lainnya yang berasal dari lingkungan keluarga Keraton Buton, seperti La Ode Kobu (Metapasina Bādia), La Ode Nafiu (Yarona Labuandiri), dan H. Abdul Ganiu (Kenepulu Bula).

Aksara utama Buri Wolio terdiri dari 15 huruf Arab asli dan 7 huruf tambahan yang diambil dari aksara Jawi. Aksara utama digunakan untuk menulis bahasa Wolio sehari-hari. Sedangkan aksara tambahan digunakan untuk menulis kata-kata serapan dari bahasa Arab.


Aksara Utama
No.NamaAlih AksaraBentuk
Di akhirDi tengahDi awalMandiri
LatinBuri
1yāʾيَاءa / yـيـيـيـي[1]
2bāʾبَاءbـبـبـبـب[2]
3tāʾتَاءtـتـتـتـت
4jīmجِيمjـجـجـجـج
5dālدَالdـد--د[3]
6rāʾرَاءrـر--ر
7zāynزَاينzـز--ز
8sīnسِينsـسـسـسـس
9kāfكَافkـكـكـكـك
10lāmلاَمlـلـلـلـل
11mīmمِيمmـمـمـمـم
12nūnنُونnـنـنـنـن
13hāʾهَاءhـهـهـهـه
14wāwوَاوwـو--و
15ʾalifأَلِفā / ʾـا--ا[4]
16چَاcـچـچـچـچ
17ngāڠَاngـڠـڠـڠـڠ
18ڨَاpـڨـڨـڨـڨ
19ڬَاgـڬـڬـڬـڬ
20nyāۑَاnyـۑـۑـۑـۑ
21ḃāڀَاـڀـڀـڀـڀ[5]
22ḋāڊَاـڊ--ڊ[6]


Aksara Tambahan
No.NamaAlih AksaraBentuk
Di akhirDi tengahDi awalMandiri
LatinBuri
1ṡāʾثَاءـثـثـثـث
2ḥāʾحَاءـحـحـحـح
3khāʾخَاءkhـخـخـخـخ
4żālذَالżذ
5syīnشِينsyـشـشـشـش
6ṣādصَادـصـصـصـص
7ḍādضَادـضـضـضـض
8ṭāʾطَاءـطـطـطـط
9ẓāʾظَاءـظـظـظـظ
10ʿaynعَيْنʿـعـعـعـع
11ghaynغَيْنghـغـغـغـغ
12fāʾفَاءfـفـفـفـف
13qāfقَافqـقـقـقـق


Diakritik

Fungsi diakritik adalah untuk memberi bunyi pada konsonan. Berbeda dengan kerabatnya (Jawi dan Pegon), Buri Wolio tidak bisa dibaca tanpa diakritik, karena itu posisi diakritik sangatlah penting. Terdapat 5 buah diakritik dasar dalam Buri Wolio, dimana dengan bantuan konsonan tertentu, bunyi vokal dari diakritik tersebut bisa dipanjangkan.

Diakritik
PendekPanjang
-a-i-u-e-o
◌َ◌ِ◌ُ◌ࣹ◌ٚ◌َا◌ِيْ◌ُوْ◌ࣹيْ◌ٚوْ
AIUEOĀĪŪĒŌ
يَيِيُيࣹيٚيَايِيْيُوْيࣹيْيٚوْ

Contoh teks

Berikut adalah cuplikan Kaḃanti Bunga Malati yang ditulis ulang pada tahun 2004 dengan bahasa dan ejaan Wolio modern.[3][5]

Bahasa WolioTerjemahan bahasa Indonesia[3]
Buri[5]Latin

مِنْچُيَنَڨٚ يِسَرٚڠِ رَڠْكَيࣹيَ
نࣹسَبُتُنَ يَڀَرِ اَرَتَانَ
تَبࣹيَنَمٚ يِسَرٚڠِ رَڠْكَيࣹيَ
هࣹڠْڬَ حَقُنَ يَڨࣹكَڊُوَيَكَمٚ

Mincuanapo isarongi rangkaea

Ne sabutuna aḃari ʾaratāna

Tabeanamo isarongi rangkaea

Hengga ḥaquna apekaḋawuakamo

Belumlah dikatakan orang kaya

Kalau hanya banyak hartanya

Tapi yang dikatakan kaya

Miliknya pun rela diberikannya

مِنْچُيَنَڨٚ يِسَرٚڠِ مِسِكِنِ
نࣹسَبُتُنَ يِنْدَ تࣹئَرَتَانَ
تَبࣹيَنَمٚ يِسَرٚڠِ مِسِكِنِ
يَڨࣹيْلُيَ عَرَسِ كٚحَقُنَ

Mincuanapo isarongi misikini

Ne sabutuna inda teʾaratāna

Tabeanamo isarongi misikini

Apēlua ʿarasi koḥaquna

Bukanlah dinamakan orang miskin

Jika hanya tidak punya harta

Sebenarnya orang miskin itu

(adalah orang yang) Masih mengharapkan hak sesamanya

مِنْچُيَنَڨٚ يِسَرٚڠِ مَرَدِكَ
نࣹسَبُتُنَ يَڨٚوْڨُيَ يِڨَيُ
تَبࣹيَنَمٚ يِسَرٚڠِ مَرَدِكَ
يَمَرَدِكَمٚ يِوَانَ نَرَكَا

Mincuanapo isarongi maradika

Ne sabutuna apōpua ipau

Tabeanamo isarongi maradika

Amaradikamo iwāna narakā

Belumlah dikatakan merdeka

Kalau hanya memangku jabatan

Sebenarnya yang (dikatakan) merdeka itu

(adalah orang yang) Sudah bebas dari api neraka