Mengenai Saya

Foto saya
Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia

Kamis, 20 April 2023

Sultan Murhum dan Bajak Laut Labolontio


Saangu wakutu tana wolio siy ‘apanntangia Raja Mulae zamani yincia sumai yi Bone Tobungku yi Kaponturi dhangia te kaheru. Baana kaheru yinca sumako , La Bolontio. Roonamo mia yincia sumaysaompole mea matana. Tapanamo kasegana te amalanga yincana. Bhari-bharia mia yindamo te matarana. Araatana posa rampasimea yincia. Ane yinda aalea adhaki-dhakia. Saopea-saopea kaheru yincia sumay akawamo yi kamali lelena. Raja mulae arangomo. Laosaka ‘apadhangia kambotu. Yincema- yincema momembalina  ‘apekamate La Bolontio. Bhea dhawua ponambo, eapakawia te ‘anana Wa Tampaydongi. Sarona yi kamali Bhoroko Malanga. Lele yincia sumay ‘atoresamo sabhawaangia siy. Yapayaka mia momasegana posalingkamo yi Bone Tobungku. Murhum, samia alingkamo dhuka. Kooniwae Murhum wakutuu yincia sumay asawi koli-koli. Sadhompana koli-kolina Murhum asapomo. Sasampona Murhum ‘apara make-makempamo aporope yi La Bolontio. Tula-tulana kooniu La Bolontio ‘alingkaysimo dhuka Murhum. Samakasuna La Bolontio Murhum ‘aontomo. Oaena apapesuamea yinuncana bhone.Kasiympo apapenea asepaakamo La Bolontio. Wakutu yincia yitu matana La Bolontio abukeakamo bone, te aseserakamo yindamo apokamaata. Murhum ‘abindumo ewangana kaatobokiaka La Bolontio maka yinda katea. Madey-dey Murhum ‘aagoy ewangana La Bolontio kasiympo atobokia La Bolontio, lausaka amate. Sakamatana yincia yitu sabhangkana Murhum aosemo sabhangkana La Bolontio. Kaapoewangi sagaa amate, sagaa atorako ,sagaa dhuka apalay. Satoba tane La Bolontio ‘atarimea ‘obhorokona kasiympo baana adawuakea miana siompu ambuliakea madhey yi kamali te pakawa yi raja,te apatium baakea matana La Bolontio mako yi raja Mulae mamudhaakana akamatea saompole matana. Padha yincia sumay Murhum adhodhomo kaumaneana La Bolontio sumay. Kawa sapadhana yincia sumay Murhum atopakawimo te bhoroko Malanga. Bhana La Bolontio atomaniuakamo, te miana Siompu ambuliakamea yi siompu kaatodhika-dhika, yi nuncana lia yi bahawona bhatu yi lontoy. Kasiympo rampana kabharina momatena yi Bhone Tobungku obhona wakutu yincia yitu posa maleiaka raa. Siytumo sababuna bona tobungku yi kapuntori atosarongimo “BONE MALEI”. TANGKANAPO Bahasa Indonesia…. Suatu saat buton diperintah oleh seorang raja yakni Raja Mulae. Pada zaman itu di Bone Tobungku Kapuntori ada huru-hara yang di pimpin oleh La Bolontio. Rakyat yang tinggal di Bone Tobungku sangat takut dengan La Bolontio karena dia hanya memiliki satu mata saja. Ia kejam dan tinggi hati, semua orang merasa tidak tenteram. Harta bendanya dirampas, diambil atau dirusakkan. Beberapa saat kemudian huru-hara tersebut sampailah beritanya di Istana dan telah diketahui olah raja. Setelah itu raja mengadakan keputusan, siapa-siapa yang dapat membunuh La Bolontio, akan diberi hadiah, dikawinkan dengan putrinya yang bernama Wa Tanpaydongi. Namanya diIstana di kenal dengan Boroko Malanga. Beritanya tersebut menyebarkan di seluruh kerajaan. Para satria yang berani semua menuju Bone To bungku. Murhum pun ikut mengadu untung. Menurut berita Murhum saat ini naik sampan menuju Bone Tobungku. Setelah tiba, Murhum naik ke darat. Setelah menginjakkan kaki di pantai , ia berpura-pura pincang berjalan menuju La Bolontio. Menurut Cerita, La Bolontio berjalan pula menuju Murhum. Setelah La Bolontio mendekat,Murhum memasukkan kakinya kedalam pasir, dan secara tiba-tiba disentakkan kearah mata La Bolontio, sehingga penuh dengan pasir. Akhirnya ia terhuyung-huyung karena matanya sudah buta akibat dikena pasir. Murhum menghunus kerisnya lalu menikam La Bolontio,tetapi tidak mampan. Melihat itu Murhum merampas keria La Bolontio kemudian ditikamkan pada La Bolontio denagn kerisnya sendiri. Saat itu La Bolontio terbanting lalu meninggal dunia. Melihat itu kawan-kawan Murhum lalu mengejar pasukan La Bolontio untuk berkelahi, sebagian meninggal ,sebagian ditawan dan sebagian lagi melarikan diri. Saat itu juga Murhum memenggal leher La Bolontio dan kepalanya dibawa segera pada raja  supaya raja yakin bahwa La Bolontio yang bermata satutelah dikalahkan. Sesudah itu Murhum memotong pula alat fital dari La Bolontio untuk di persembahkan kepada Raja Mulae sebagai bukti bahwa yang membunuh La Bolontio adalah Murhum. Kemudian dari pada itu Murhum telah diakui Raja Mulae dan langsung dikawinkan dengan Boroko Malanga. Akhirnya kepala La Bolontio diserahkan kepada orang siompu untuk disimpan dalam gua yang berada diatas batu di Lontoi. Saat pertempuran di Bone Tobungku sangat banyak pasukan La Bolontio yang terbunuh sehingga pasir menjadi berwarna merah karena darah. Itulah sebabnya Bone Tobungku di gelar dengan nama “Bone Malei”.

Cerita Wandiu-diu


Piamoyitu yi sangu kampo yi biwina tawo yi Wolio.Mboremo samia yayaro temanga ana-ananamo mayidi-yidina.Apelo to dhadhiakana saeo-saeo,kadhangiamo topasuru oinana akarajaa samia-miana,karajana kumpulu kau,kasimpo asoa atawa pobolosiaka te giu mosaganana to faraluna saeo-saeo.Momini mboyitu,sadhia to kinanadena saeo-saeo amarasaimpuu sstopokawa apesua padhangia ikane to ikandeaka.Kadhangia yincia siy podhompuu tangiakana anana kaepuna atangi saeo-saeo wakutuna akande ronamo yinda tee ikane. Piamo yitu,okaepuna tomasiaka mpuu oinana te manga oakana atangi,yinda teunto roonamo pelu ea kande ikane.Sadhia mpuu akana ruamiana,te inana sadhia bujua sabhara giu.Sabhara giu usahana inda membali apaunto tangina,mala soahanda atangi.Roonamao andina sadhia atangi torosu,te inana amendeumpuu arango tangina anana,kasimpo inana apeloakamea i emanina anana,asapo apeloakea karona oikane itawo. Sakawana yi bhiwina tawo oinana lausaka apongano itawo,bhea ose oikane modhangiana yi pasi,sampe apoolia.Sapokawakana piamba ikane,oinana ambulimo ibhanua pekangkilomea ikanena kahimpo anasu,samasasana akandemo po bhawa-bhawa.Karajana apelo ikane samia-miana,amembalimo karajaana oinana saeo-saeo to anana imasiakana. Saangu waktu,oinana yieantagi umbana ea pambuli ikane ipoolina indamo ambuli.Padha incia yitu kaepuna kemba mea manga akana asapoaka itawo antanta oinana. Inda mangenge aumbamo inana pokawa teemanga anana kaasimpo adawua piamba ikanekasimpomo kaepuna aemani apasusua.Momini oinana kalondo-londo itawo bha pene i yati.Sapolandana i yati,talu-talu miaya anana,atokidha akamata inana abhalimo. Obhalina tomataumpuu minaka yi aena sakawana itoputuna,akoonamo te-apobhangumo ikane.Sakamatana oinana antagimo manga anana talumia.Momoni mbomai sadhia inana eapaunto manga anana kasimpomo apasusu anana kaepu,kaasimpo apaumbaea ambuli uka abhawakea ikane to manga anana sapadhana apasusu oanana ka asapo itawo Saeo,ruaeona,oinana malagamo ambuli akamata manga anana ibhiwina tawo.Momini inana,oanana kaepu sadjia abhaka oinana,teamani asusu.Maka oakana akaka sadhia apaunde incana andina,kasimpomo oakana moporitangana alagu maasi ibhiwina tawo : Wa inaa Wandiyu-ndiyu Mayi paasusu andiku Andiku Lambatambata Akaku Laturungkoleo Sapadhana anana alagu-lagu tee harapu mpuu, inda mangenge inana atimbamo minaaka itawo, maka amembalimo satumpo manusia,satumpo ikane. Sakawana ibhawona tawo, oinana inda malingu adhawu mea ikane manga anana momangengemo antantagia. Saeyo, ruaeo, ande apelu apokawa teinana alaguakapo lagu Wandiyu-ndiyu. Maka samangengena sadhia aumbamo apokawa temanga anana ibhiwina tawo,oanana motutubina karona.Sahandana kabharina akawamo talingana te-indamo amembali apene iyati, roonamo amembalimo sambaa ikane diyu. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut………… Dahulu kala, di suatu kamping dekat pantai buton,tinggalah seorang janda miskin bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.Untuk mencari nafkah sehari-hari, dengan terpaksa si ibu harus bekerja seorang diri. Pekerjaan yang dilakukan yakni mengumpulkan kayu bakar, kemudian dijual atau ditukar dengan benda-benda lain untuk keperluan hidup sehari-hari.namun demikian, acapkali kebutuhan pokok untuk makan sehari-hari amat sulit terpenuhi termasuk menyediakan ikan untuk laut. Keadaan yang demikian menyebabkan si bungsu sehari-hari menangis tatkala anak makam karena tanpa ikan. Suatu hari, si bungsu yang amat dikasihi oleh ibu dan kakaknya ini menagis tanpa henti dan merengek minta dihidangkan ikan. Berkali-kali kedua kakaknya, terlebih si ibu, membujuknya dengan berbagai cara. Upaya yang ditempuh tidak mampu meredakan tangisnya , bahkan justru sebaliknya , karena si bungsu tetap menangis dan si itu tak tega untuk membiarkan anaknya menangis , lalu si ibu berupaya mewujudkan permintaan anaknya dengan jalan mencari sendiri ikan dilaut. Saat tiba di tepi pantai, si ibulalu menceburkan diri ke laut, berenang, menyelam dan menyelam lagi untuk mengejkar ikan – ikan di dasar laut hingga berhasil ditangkap. Setelah mendapatkan beberapa ekor ikan,si ibu kembali ke rumah untuk menemui anak-anaknya yang telah menunggunya. Setibanya di rumah ikan tangkapan dibersihkan lalu dimasak untuk selanjutnya disantap bersama. Kegiatanmencari ikan di laut seorang diri telah merupakan tugas sehari-hari si ibu demi si bungsu yang amat dikasihinya. Suatu waktu, si ibu yang telah dinanti-nantikan kedatangannya untuk membawa pulang ikan-ikan tangkapann tak kunjung tib. Sementara itu si bungsu terus menerus menangis meminta lauk dari ikan dan ingin menyusu. Keesokan harinya si bungsu diajak oleh kedua kakaknya ke tepi pantai untuk menjemput ibu mereka. Beberapa saat kemudian si ibu datang menghampiri anak-anaknya sambil memberikan beberapa ekor ikan. Kla itu si bungsu merengek minta di susui, sehingga si ibu yang sebagian tubuhnya masih terendam air harus naik ke darat, ketiga anaknya terperenjat menyaksikan tubuh ibu mereka yang telah berubah. Perubahan itu tampak mulai dari kaki hingga lutut, yang telah bersisik dan telah membentuk ekor ikan. Melihat ibu mereka demikian, si ibu tetap menghibur ketiga anaknya dan menyusui si bungsu sambil menjanjikan akan kembali lagi membawakan ikan pada anak-anaknya. Usai menyusui si bungsu, lalu pamit pada anak-anaknya untuk kembali ke laut.hari – hari berikutnya, si ibu mulai jarang datang menghampiri anak-anaknya ditepi pantai. Karena si ibu tak muncul-muncul juga, sementara si bungsu tetap menanyakan ibu mereka, juga minta disusui, maka si anak tengah berusaha menghibur si bungsu dan si sulung sambil berdendang syahdu di tepi pantai : Wa inaa wandiyu-diyu Mayi paasusu andiku Andiku Lambatatambata Akaku Waturungkoleo Artinya : Wahai ibu wahai si duyung-duyung Kemarilah susui adikku Adikku Lambatatambata Kakakku Waturungkoleo Beberapa saat usai mendendangkan syair lagu dengan penuh perasaan dan harapan, lalu dengan penuh perasaan dan harapan, lalu muncullah si ibu dari dalam laut dengan wujud separuh manusia dan separuh ikan. Ketika muncul ke permukaan air, si ibu tidak lupa memberikan beberapa ekor ikan kepada anak-anaknya yang telah lama merindukannya. Hari demi hari, bila ingin bertemu ibu mereka, dendangkan lagu Wandiyu-diyu lalu dilagukan. Akan tetapi bersamaan dengan perjalanan waktu, kian hari di setiap kemunculannya menemuianak-anaknya di tepi pantai, sisik-sisik yang menutupi tubuhnya semakin meluas hingga menutupi telinganya. Akibatnya sejak itu si ibu tak dapat mendengarkan dendang syahdu suara anak-anaknya dan tak mampu lagi mengijakkan kakinya ke darat kembali. Karena telah berubah menjadi seekor ikan duyung. #Tamat#

Suku Buton


Suku Buton (Jawi: سوكو بوتون ) adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di Kepulauan Buton. Suku Buton juga dapat ditemui dengan jumlah yang signifikan di luar Sulawesi Tenggara seperti di Maluku Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Maluku, dan Papua dikarenakan migrasi orang Buton di akhir tahun 1920-an. Seperti suku-suku di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok Nusantara dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton. Persebaran Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah itu kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Muna Barat. Sejarah Peta wilayah Kesultanan Buton Jika melihat dari Sejarah Suku Buton dan asal usulnya dapat diketahui dengan mengungkapkan lebih dahulu sejarah kedatangan Sipanjonga dan kawan-kawannya, yang dikenal dalam sejarah wolio dengan nama Kesatuannya “Mia Pata Mianan” yang artinya “empat orang” lebih jelasnya dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati dan Siuamanajo. Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari Raja-raja di Wolio, keempat orang tersebut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, di mana tibanya di Buton dapat diperkirakan berkisar akhir abad ke 13 atau setidaknya pada awal abad ke 14. Perkiraan tibanya Sipanjonga dan kawan-kawannya. Dalam tahun 1275 bertolaklah satu tentara Kertanagara dari pelabuhan Tuban. Tentara itu mendarat di daerah muara sungai Jambi dan: rebut daerah itu, yang lalu dijadikan daerah takluk bagi kerajaan Singosari. Dalam waktu 10 tahun saja, jajahan kerajaan Jawa itu telah dapat diluaskan sampai kedaerah hulu sungai jambi. Didirikanlah kembali kerjaan Melayu lama didaerah itu, tetapi sebagai negara bagian pada kerajaan Singosari. Raja Melayu dijadikan Raja takluk kepada Baginda Kertanagara. Kerajaan Melayu menjadi penting kedudukannya, sehingga dalam abad ke 14 seluruh Sumatra kerapkali disebut juga melayu. (H. J. Van Den Berg) Suatu kumpulan karya, yang di dapat orang di daerah Jambi, atas perintah Kertanagara diangkut ke melayu dalam tahun 1286. Maksud kertanagara telah jelas, yaitu mendirikan satu kerajaan Jawa di Sumatra tengah, yang akan menjadi pusat kebudayaan Jawa dipulau itu. Kerajaan Jawa yang di Sumatra itu merupakan suatu bahaya yang besar sekali bagi Sriwijaya. Akan tetapi Sriwijaya terlalu lemah untuk mencegah maksud Kertanagara itu. Benteng Keraton Buton Kekuasaan Sriwijaya telah runtuh pada segenap pihak. Dibagian Utara Semenanjung Malaka. Sebagian dari daerah Sriwijaya telah direbut kerajaan Siam yang baru saja berdiri. Di Aceh pun telah mulai pula timbul kerajaan baru, umpamanya kerajaan Perlak dan Kesultanan Samudra Pasai. Kerajaan baru itu telah menjadi kerajaan islam (yang pertama di Indonesia). Perhubungannya dengan Sriwijaya hampir tidak ada lagi. Kerajaan Pahang pun yang terletak di Semenanjung Malaka, rupanya telah menjadi daerah takluk juga pada kerajaan Singosari, yang telah sejak lama mengakui kekuasaan tertinggi dari Sriwijaya, rupanya terlepas pula dalam zaman itu dan telah menjadi bagian kerjaan Singosari. Sipanjonga dan teman-temannya serta pengikut-pengikutnya, sebagai seorang raja di negerinya, yang termasuk di dalam kerjaan Sriwijaya, mengetahui kedudukan Sriwijaya sudah demikian lemahnya, Ia mengambil kesempatan untuk meninggalkan kerajannya mencari daerah lain untuk tempat tinggalnya dan Untuk dapat menetap sebagai seorang raja yang berkuasa dan tibalah mereka di Pulau Buton. Tibanya Sipanjonga dengan kawan-kawan tidak bersama-sama dan tidak pula pada suatu tempat yang sama dan rombongannya terdiri dalam dua kelompok, dengan tumpangan mereka yang disebut dalam zaman “palulang”. Sekelompok orang Buton pada tahun 1900 Kelompok pertama Sipanjonga dengan Sijawangkati sebagai kepala rombongan mengadakan pendaratan yang pertama di Kalaupa, suatu daerah pantai dari raja tobo-Tobo, sedangkan Simalui dan Sitamanajo mendarat di Walalogusi (kira-kira kampung Boneatiro atau di sekitar kampung tersebut Kecamatan Kapontori sekarang). Pada waktu pendaratan pertama itu Sipanjonga mengibarkan bendera kerajaannya pada suatu tempat tidak jauh dari Kalampa, pertanda kebesarannya. Bendera Sipanjonga inilah yang menjadi bendera kerajaan buton yang disebut “tombi pagi” yang berwarna warni, “longa-longa” bahasa wolionya. Di kemudian tempat di mana pengibaran bendera tersebut dikenal dengan nama “sula” yang sampai sekarang masih dikenal, terdapat di dalam desa Katobengke Kecamatan Wolio, tidak jauh lapangan udara Betoambari. Kemudian maka keempat pemuka tersebut di atas yang membuat dan meninggalkan sejarah dan kebudayaan wolio, sedangkan kerajaan yang pada zamannya pernah menjadi kerajaan yang berarti, dan merekalah pula yang mengawali pembentukan kampung-kampung, yang kemudian sesuai dengan perkembangannya menjadi kerajaan dan inilah yang dimaksudkan dengan kerajaan Buton, yang sebagai Rajanya yang pertama Ratu I Wa Kaa Kaa. Masjid Agung Keraton Buton Di tempat pendaratannya tersebut Sipanjonga dan kawan-kawannya membangun tempat kediamannya yang lambat laun menjadi sebuah kampung yang besar, yang tidak lama setelah pendaratannya itu Rombongan Simalui dan Sitamanajo bersatu kembali dengan Sipanjonga di Kalampa. Oleh karena letak tempat tinggal dari Sipanjonga dekat pantai bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadinya gangguan-gangguan keamanan, terutama sekali dari bajak laut yang berasal dari Tobelo Maluku – masyuurnya gangguan keamanan dari apa yang dikenal dengan tobelo, demikian di takuti sehingga menjadi akta menakuti anak-anak dari kalangan orang tua dengan “jaga otobelo yitu” artinya “awas tobelo itu”. Untuk mengindarkan diri dari gangguan keamanan Sipanjonga dan rakyatnya meninggalkan Kalampa menuju arah gunung yang tidak jauh dari tempatnya itu kira-kira 5 km dari tepi pantai di tempat yang baru inilah Sipanjonga dan rakyatnya bermukim. Karena di tempat yang baru itu masih penuh dengan hutan belukar maka untuk membangun tempat kediaman mereka ditebasnya belukar-belukar itu, yang pekerjaan menebas itu dalam bahasa wolionya dikatakan “Welia”. Inilah asal nama “Wolio” dan tempat inilah pula yang menjadi tempat pusat kebudayaan Wolio ibu kota kerajaan. Diriwayatkan lebih jauh bahwa pada waktu Sipanjonga dan teman-teman menebas hutan belukar di tempat itu didapati banyak pohon enau. Terlebih di atas sebuah bukit bernama “Lelemangura” Rahantulu – Di tempat ini diketemukan putri Raja Wa Kaa Kaa. Lelemangura bahasa Wolio terdiri dari anak kata “lele” dan “mangura”. Lele berarti tetap dan mangura mudah. Ini mengandung makna kiasan terhadap putri Wa Kaa Kaa yang karena ditemukan dan dianggap sebagai bayi dalam arti “diberi baru menerima, disuap lalu menganga dan hanya menangis dan tertawa yang dikenalnya”. Tujuan hakekatnya supaya tetap diingat bahwa Raja adalah “anak” dari Betoambari Bontona Peropa dan Sangariarana Bontona Baluwu Siolimbona pada keseluruhannya Bukit inilah yang kemudian masyur dengan sebutan Lelemangura. Salah seorang teman dari Sipanjonga yang bernama Sijawangkati mendapatkan enau dan dengan diam-diam ia menyadap enau itu. Ketika yang empunya enau yang bernama Dungkungeangia datang menyadap enaunya, didapatinya enaunya sudah di sedap orang yang tidak diketahuninya. Timbullah marahnya. Dipotongnya sebatang kayu yang cukup besar. Melihat potongan batang kayu itu, timbul dalam pemikirannya betapa besar dan kuat orang yang memotong kayu itu namun tidak menimbulkan rasa takut pada diri Sijawangkati. Untuk mengimbangi potongan kayu itu, dipotongnya rotan yang panjangnya satu jengkal yang cukup besar juga, kemudian batang rotan itu disimpulnya. Karena kekuatan simpulan pada batang rotan itu, hampir tidak kelihatan, kemudian diletakkannya di atas bekas potongan batang kayu itu. Tentu orang yang menyadap enau saya ini adalah orang yang sakti dan mungkin bukan manusia biasa. Suatu waktu secara kebetulan keduanya bertemu di tempat itu. Maka terjadilah perkelahian yang sengit, yang sama-sama kuat. Masing-masing tidak ada yang kalah. Pada akhirnya keduanya karena sudah kepayahan berdamai. Mufakatlah keduanya untuk hidup damai dan saling membantu dan bagi anak cucu mereka dikemudian akan hidup di dalam alam kesatuan dan persatuan. Dengan adanya perdamaian sijawangkai Dungkusangia tersebut maka negeri tobe-tobe masuk dan bersatu dengan Wolio. Letak negeri tobe-Tobe itu dari tempat tinggal Sipanjonga +7 KM. Dapat dijelaskan disini bahwa Dungkusangia dimaksudkan menurut keterangan leluhur adalah berasal dari Cina yang selanjutnya dalam buku silsilah bangsawan Buton dikatakan asal “fari” asal “peri”. Menurut Pak La Hude (Sejarawan) dikatakan orangnya amat putih, sama halnya dengan putihnya isi kelapa yang dimakan fari (binatang semacam serangga). Mata pencaharian Selain merupakan masyarakat pelaut, masyarakat Buton juga sejak zaman dulu sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kebudayaan Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi. #tamat#

Raja dan Sultan Buton


Buton adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Pada zaman dahulu di daerah ini pernah berdiri kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton. Buton dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah Nagarakertagama karya Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Keresian atau tempat tinggal para resi dimana terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Nama Pulau Buton juga telah dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton. Sejarah Awal Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh kelompok Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati yang oleh sumber lisan mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke – 13. Mereka mulai membangun perkampungan yang dinamakan Wolio (saat ini berada dalam wilayah Kota Bau-Bau serta membentuk sistem pemerintahan tradisional dengan menetapkan 4 Limbo (Empat Wilayah Kecil) yaitu Gundu-gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu yang masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Bonto sehingga lebih dikenal dengan Patalimbona. Keempat orang Bonto tersebut disamping sebagai kepala wilayah juga bertugas sebagai pelaksana dalam mengangkat dan menetapkan seorang Raja. Selain empat Limbo yang disebutkan di atas, di Buton telah berdiri beberapa kerajaan kecil seperti Tobe-tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Maka atas jasa Patalimbona, kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bergabung dan membentuk kerajaan baru yaitu kerajaan Buton dan menetapkan Wa Kaa Kaa (seorang wanita bersuamikan Si Batara seorang turunan bangsawan Kerajaan Majapahit) menjadi Raja I pada tahun 1332 setelah mendapat persetujuan dari keempat orang bonto/patalimbona (saat ini hampir sama dengan lembaga legislatif). Dalam periodisasi Sejarah Buton telah mencatat dua Fase penting yaitu masa Pemerintahan Kerajaan sejak tahun 1332 sampai pertengahan abad ke – 16 dengan diperintah oleh 6 (enam) orang raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton. Fase kedua adalah masa Pemerintahan Kesultanan sejak masuknya agama Islam di Kerajaan Buton pada tahun 948 Hijriah ( 1542 Masehi ) bersamaan dilantiknya Laki La Ponto sebagai Sultan Buton I dengan Gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis sampai pada Muhammad Falihi Kaimuddin sebagai Sultan Buton ke – 38 yang berakhir tahun 1960. Bidang Hukum Dibidang hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton, 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli . Bidang Perekonomian Bidang perekonomian dimana Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif). Bidang Pertahanan Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan falsafah perjuangan yaitu: “Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri) “Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri) “Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah) “Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama) Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan). Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960) berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Buton Tengah dan Kota Bau-Bau. Raja-raja ButonRatu ke I Wa Kaa KaaRatu ke II BulawambonaRaja ke III BataraguruRaja ke IV Tua RadeRaja ke V MulaeRaja ke VI La Kilaponto / Timbang Timbaga / Halu Oleo / MurhumSultan-Sultan ButonSultan Murhum La Kilaponto(1491-1537),dengan gelar Sultan KaimuddinSultan La Tumparasi (1545-1552) dengan gelar Sultan Kaimuddin,Sultan La Sangaji (1566-1570) dengan gelar Sultan Kaimuddin,Sultan La Elangi (1597-1633) dengan gelar Sultan Dayanu Iksanuddin,Sultan La Balawo (1617-1619)Sultan La Buke (1632-1645)Sultan La Saparagau (1645-1646)Sultan La Cila (1647-1654)Sultan La Awu (1654-1664) dengan gelar Sultan Malik Sirullah,Sultan La Simbata (1664-1669) dengan gelar Sultan Adilil Rakhiya,Sultan La Tangkaraja (1669-1680) dengan gelar Sultan Kaimuddin,Sultan La Tumpamana (1680-1689) dengan gelar Sultan Zainuddin,Sultan La Umati (1689-1697)Sultan La Dini (1697-1704) dengan gelar Sultan Syaifuddin,Sultan La Rabaenga (1702)Sultan La Sadaha (1704-1709) dengan gelar Sultan Syamsuddin,Sultan La Ibi (1709-1711) dengan gelar Sultan Nasraruddin,Sultan La Tumparasi (1711-712) dengan gelar Sultan Muluhiruddin Abdul Rasyid,Sultan La Ngkarieri (1712-1750) dengan gelar Sultan Sakiyuddin Duurul Aalam,Sultan La Karambau (1750-1752)Sultan Himayatuddin Ibnu Sultaani Liyaauddin IsmailSultan Hamim (1752-1759) dengan gelar Sultan Sakiyuddin,Sultan La Seha (1759-1760) dengan gelar Sultan Rafiuddin,Sultan La Karambau (1760-1763)Sultan Himayatuddin Ibnu Sultaani Liyaauddin IsmailSultan La Jampi (1763-1788) dengan gelar Sultan Kaimuddin,Sultan La Masalalamu (1788-1791)Sultan La Kaporu (1791-1799) dengan gelar Sultan Muhuyuddien Abdul Gafur,Sultan La Badaru (1799-1822) dengan gelar Sultan Dayanu Asraruddin.Sultan La Dani (1823-1824)Sultan Muh. Idrus Kaimuddin (1824-1851)Sultan Muh. Isa (1851-1861)Sultan Muh. Salihi (1871-1886)Sultan Muh. Umar (1886-1906)Sultan Muh. Asikin (1906-1911)Sultan Muh. Husain (1914)Sultan Muh. Ali (1918-1921)Sultan Muh. Saifu (1922-1924)Sultan La Ode Muh. Hamidi (1928-1937)Sultan La Ode Falihi Qaimuddin (1937-1960)Sultan Drs. H. La Ode Manarfa (Putra Sultan La Ode Falihi Qaimuddin, Pelaksana Sultan Buton sejak Sultan Falihi Qaimuddin mangkat) (1960 - 2002)Sultan La Ode Muhammad Jafar (Mei 2012-19 Juli 2013)Sultan dr. H. La Ode Muhammad Izat Manarfa, M.Sc (13 Des. 2013 – Sekarang)

Minggu, 09 April 2023

Pekangkilo Pataanguna - Sahada (Buton)


Osii sangumoduka isarongi bicara rukun rahasia sahada. Babana ubaca sarati toba taluwulinga. Kasimpo omaanana sarati tobayitu patangu yi Allahu taala, taluangu imanusia.
1. Ubaca Astaghfirullah uniati usoso yi Allahu taala tee manusia rangamu tee uniati ulelesi kakalo iborokomu maanana ososoiyaka pionimu.
2. Ubaca Astaghfirullah uniyati upekarido meya salana pokamatamu tee uniyati ulelesi kakalo ilimamu.
3. Ubaca Astaghfirullah uniyati ubotuki porangomu mosalana tee uniyati ulelesi kakalo iyaemu.
4. Uniyati upogamo tee kafiri, tee kufuru setani, tee iblisi, tee kadadi, tee binata, tee haefani, tee naraka, tee siksa incana qoburu tee haramu tee wasuwisu makorohomu. Batukimea bolimu unamunamua tee moduka barangkala uala hargana miya sauwa bolosia sauwa, barangkala uala hargana miya sasse bolosia sasse.


Kasimpo ubaca: Astaghfirullahul aliimullazii laa ilaha illallahu huwalhayyul qayuumu wa atuwbu ilahi (3x).

Kasimpo usahada: Ashadu anlaa ilaha illallah - Kuba: Satotuna inda tee oupu isomba sampumpuna soo Allahu taala.
Wa ashadu anna muhammadan rasulullah. Tee kuba: Satotuna Nabi Muhammadi tumpuana Allahu taala 

Kasimpo utontomaka bake ogena yitu patalimbaga: 
1. Hancuru BADAMU yitu amembali BAKE.
2. Kasimpo hancuru BAKE yitu membali YANDALA 
3. Kasimpo hancuru YANDALA yitu membali MANUSIA CAHAYA
4. Kasimpo hancuru MANUSIA CAHAYA yitu membali HURUFU ALIFU.
5. Kasimpo ufanamo inuncana HURUFU ALIFU yitu oitumo isarongi RUHUL KUDUSU.

Upadaaka ufanaaitu ugoramo yi Allahu taala tee Nabi Muhammadi: "Hei waopu Allahu taala tee yingko Nabi Muhammadi kugoragoraaka kangkilona karokusii simbow kangkiloku polimbaku minaaka Allahu taala ombomboreku incana poanakana inaku pamembaliaku hurufu Alifu incana bakena inaku". Kasimpo itikadia HURUFU ALIFU yitu sombow SIFATUMU yitu iweitumo ufanaa. Oitumo isarongi Alamu Ajsamu.

Incema mopakea sahada inciasii ofahalana sombow apene ahaji sawulinga tee Nabi Muhammadi tee Qathana Sambahea alapasimo.

Sabtu, 08 April 2023

Pekangkilo Pataanguna - Air Sambahea (Buton)

Osii sangumoduka isarongi bicara rukun airi sambahea :
1. Airi sambaheaitu uniati upewanuitu upengkangkilo kuli tee bulu tee haramu mopesuakiya.
2. Tabanui ngangata taniyati tapekangkilo kumba tee haramu mopesuakiya.
3. Tabanui angota taniyati tapekangkilo ate tee haramu mopesuakiya.
4. Tabanui routa taniyati tapekangkilo bake tee haramu mopesuakiya.
5. Tabanu ngilungiluta ikana kawana sikuta taniyati tapekangkilo anto tee haramu mopesuakiya.
6. Tabanu ngilungiluta ikai kawana sikuta taniyati tapekangkilo anto tee haramu mopesuakiya.
7. Tabanui wuwuta taniyati tapekangkilo tubna arasillah tee haramu mopesuakiya.
8. Tabanui talingata taneyati tapekangkilo piu tee haramu mopesuakiya.
9. Tabanui borokota taneyati tapekangkilo ariina arisillah tee haramu mopesuakiya.
10. Tabanui bikubikuta ikana kawana toputu taneyati tapekangkilo buku tee haramu mopesuakiya.
11. Tabanui topututa ikai kawana bikubikuta taniyati tapekangkilo loli tee haramu mopesuakiya.
12. Tabanui aeta ruambalia taniyati tapekangkilo haramu ilandaki tee moduka anee alele titiana syiratal muataqimu naile naepua amatangka amadei.

Tuamosii isahakana airi sambahea:
Osii sangumoduka isarongi bicara rukun iwajibuakana airi sambahea. Babana airi sambahea porikanapo utontomaka ouwe cahaya ingangana bake itambe. Oitumo isarongi Nurul Imaani. Itikadia ubindua upasawiya nafasimu mopenenaitu somana ibalona ikana alosa iwuwumu. Itikadia asangumo teuwe airi sambahea yakamuitu. Kasimpo airi sambahea. Upadaka airi sambahea ugoramu yi Allahu Taala tee Nabi Muhammadi : " Hei waopu Allahu taala tee Yingko Nabi Muhammadi kugoragoraaka kangkilona karoku sii simbow kangkiloku polimbaku minaaka yi Allahu taala mbomboreku inuncana bakenq inaku pamembaliaku hurufu Muhammadi incana bakena inaku". Oitumo isarongiaka alamu Insani. Incema mopakena airi sambahea inciasii afahalana simbow apene ahaji sawulinga tee Nabi Muhammadi tee qadhana hajina alapasimo.


Minggu, 02 April 2023

Pekangkilo Pataanguna - Istinja (Buton)


 Osii rukuna talipa inuncana jambaitu :

1. Talipa inuncana jambaitu upaporikaneya aeta ikaita

2. Haramu tatotai atawa tatolee betapoaro kiblati

3. Tatotai atawa tatoleeitu tutubiya obaata

4. Tatotai atawa tatoleeitu tapekalangea aeta ikanata tapekapandea aeta ikaita

5. Tambuli minaaka incana jambaitu tapapoporikaneya aeta ikanaata.


Osii odoana talipa inuncana jambaitu "Bismillahi Allahumma inni audzubika minal habsi walhabaisi minasyaithonir rajiim"


Osii sangumoduka isarongi bicara rukun istinjaitu walu angu kabarina:

1. Upekaubusaitu porikanapo upekanglilo puse taluwulinga

2. Upekangkilo puuna kalamu ikana tee ikayi taluwulinga

3. Upekangkilo lawana sorogamu

4. Upekangkilo lawana narakamu kasimpo upekangkilo sulbi taluwulinga.


Upadaka upekaubusaitu ubacamo doa inciasii: 

"Allahumma tajlhirina qalbi minannifaqi wahasni farajina manalfawahisi"


Upadaka upowuluisitu ugoramo i Allah Taala tee Nabi Muhammad " Hei waopu Allah Taala tee yingko Nabi Muhammad kugoragora kangkilonq karokisii simbow kangkiloku polimbaku minaaka yi Allah Taala ombombowreku incana otona amaka pamembaliku hurufu Ahmadi incana otona amaku". Oitumo isarongi alamu Arwah.


Osii doana tambuli minaka jamba ;

"Ghufrannaka alhamdulillahilladzi azhaba anniyal azaya faaafanii".


Incema mopakeya istinja inciasii ofahalana simbow apene ahaji sawulinga tee Nabi Muhammad tee qathadana jumaana Alapasimo.